ASAL USUL KAMBING DAN MANFAAT SUSU KAMBING

A. Asal usul kambing
Domestikasi kambing merupakan domestikas yang paling awal dilakukan umat manusia setelah domestikasi anjing. Asal mula kambing yang ada sekarang adalah kambing liar yang hidup di pegunungan yang ada di Asia Barat, Persia, dan sekitarnya. Sebagian ahli menduga kambing-kambing yang banyak dibudidayakan saat ini berasal dari keturunan kambing hias dan spesies Capra aegagrus yang hidup di Asia kecil di daratan Persia, Capra falconeri dari sekitar pegunungan Himalaya, dan Capra prisca yang hidup di sekitar pantai mediterania.
Dalam perkembanganya,tipe kambing diklasifikasikan berdasarkan produk utamanya yaitu:

1. Tipe potong
2. Tipe perah
3. Tipe dwiguna(gabungan tipe potong dan perah)
4. Tipe bulu atau kulit bulu.

B. Kambing Penghasil Susu
A. Kambing Etawa
Kambing Etawa berasal dari wilayah Jamnapari (India) sehingga kambing ini disebut Jamnapari Kambing ini adalah kambing yang paling populer di Asia Tenggara. Di negara asalnya kambing ini merupakan tipe dwiguna ,yakni sebagai penghasil susu dan daging. Kambing Etawa adalah kambing dengan postur tubuh besar dan telinga panjang menggantung, bentuk muka cembung, serta bulu di bagian paha belakang sangat panjang. Berat badan Kambing etawa jantan bisa mencapai 90 kg dan betinanya hanya 60 kg. pada kambing etawa,ambing tumbuh dengan baik dengan putting memanjang. Produksi susunya sangat tinggi, yakni bisa [roduksinya mencapai 235 kg per masa laktasi (261 hari), Pada masa puncak laktasi produksinya mencapai 3,8 kg per hari. Disebabkan tingkat produksi susu dan laju pertumbuhannya yang tinggi,serta di dukung oleh daya adaptasi yang baik terhadap kondisi lingkungan yang ekstrim, kambing banyak digunakan untuk memperbaiki mutu kambing lokal di suatau negara. Di Indonesia perbaikan mutu genetik kambing lokal dengan kambing etawa dan menghasilkan kambing Peranakan Etawa(PE). Sentra terbesar kambing peranakan etawa adalah di wilayah kaligesing Purworejo Jawa Tengah.

B. Kambing Alpin
Kambing Alpin, sesuai dengan namanya berasal dari pegunungan Alpen di Swiss. Sebagaian besar Kambing Alpin menyebar di daratan Eropa merupakan keturunan kambing alpin dan diberi nama tambahan negara tempatnya berkembang, misalnya kambing alpin inggris,alpin italia,alpin prancis. Kambing alpin perancis memiliki ciri-ciri telinga berukuran sedang dan mengarah keatas dengan warna bulu dominan putih,hitam,coklat atau gradasi dari warna warna tersebut. Berat badan kambing alpin jantan bisa mencapai 90 kg tetapi betinanya hanya mencapai 65 kg. Kambing alpin perancis merupakan kambing perah dengan produksi sus lebih dari 600 kg dalam masa laktasi 265 hari. Kambing alpin perancis ini banyak diimpor ke Amerika Serikat.

C. Kambing Saanen
Kambing Saanen berasal dari lembah Saanen,swiss bagian barat. Kambing ini merupakan jenis kambing terbesar di Swiss. Kepekaannya terhadap sinar matahari menyebabkan kambing in sulit berkembang secara baik di wilayah tropis. Beberapa ciri fisik antara lain telinga tegak dan mengarah ke depan,bulu dominan putih dan kadang-kadang ditemui bercak hitam di bagian hidung,telinga,atau ambing. Kambing yang tidak bertanduk ini termasuk tipe dwiguna. Hal ini disebabkan postur tubuh pejantan relatif besar, tentu menghasilkan daging yang cukup banyak jika dipotong dan betinanya bisa menghasilkan susu lebih dari 740 kg selama 250 hari masa laktasi. Indonesia pernah mengekspor kambing jenis ini ke Australia pada tahun 1978. Sementara itu, keturunannya banyak tersebar di Jawa Barat dan Jawa Tengah untuk memperbaiki mutu genetik kambing lokal.
D. Kambing Toggenburg
Kambing Toggenburg berasal dari wilayah Toggenburg Valley, sebuahwilayah di sebelah timur laut Swiss. Kambing ini banyak diimpor ke Amerika Serikat dan Inggris, dengan ciri fisik antara lain telinga tegak dan mengarah ke depan, hidung agak cembung, warna bulu merah tua atau coklat dengan bercak putih di bebarapa bagian tubuh (seperti telinga dan bagian atas mata). Berat badan kambing jantan mencapai 80 kg dan betinanya mencapai 60 kg. Paling menojol dari kambing toggenburg adalah kehalusan kulit dan bulunya. Produksi susunya mencapai 600 kg dalam 267 hari masa laktasi.
E. Kambing Anglo-Nubian
Kambing anglo-nubbian berasal dari wilayah Nubia di sebelah timur laut Afrika. Sekarang ini juga banyak di pelihara di Mesir, Afrika Selatan, dan Abbesina. Ciri fisik kambing ini diantaranya telinga menggantung dan ambing besar dengan warna bulu hitam, merah, coklat, putih, atau kombinasi warna warna tersebut. Berat badankambing anglo-nubian jantan mencapai 90 kg dan betinanya mencapai 70 kg. Produksi susu dalam 237 hari masa laktasi sekitar 700kg.

F. Kambing Beetal
Kambing Beetal ini banyak dikembangkan di Punjab(India), Rawalpindi, dan Lahore. Diduga, kambing etawa dan kambing lokal, karena ciri fisiknya sangat menyerupai kambing Etawa. Produksi susunya mencapai 190 kg dalam 180hari masa laktasi.

C. Susu Kambing dan Manfaat nya
a. Beberapa Manfaat dan Khasiat Susu Kambing
Selain dijual dalam bentuk segar, sama halnya dengan susu sapi,susu kambing bisa diolah menjadi berbagai produk lain, misalnya yoghurt,keju,dan mentega. Berbagai alternatif lain, misalnya upaya mengalengkan susu kambing, sebenarnya juga bisa dilakukan agar umur produk bisa bertahan lama.
Komposisi kimia susu kambing secara umum tidak berbeda dengan susu sapi atau air susu ibu (ASI). Perbedaanya terletak pada presentase kandungannya saja.Butiran lemak susu kambing berukuran antara 1-10 milimikron sama dengan susu sapi, tetapi jumlah butiran lemak yang berdiameter kecil dan homogen lebih banyak terdapat pada susu kambing sehingga kebih mudah dicerna alat pencernaan manusia sehingga susu kambing lebih mudah dicerna alat pencernaan manusiaserta tidak menimbulkan diare pada saat mengkonsumsinya. Berdasarkan publikasi Small Ruminant Production System Neetwork for Asia(SRUPNA), sebuah jaringan informasi penelitian dan pengembangan ternak ruminansia kecil yang memilik cabang di 13 negara, susu kambing sangat baik untuk orang yang memilik kelainan lactose intolerance, yakni kelainan yang disebabkan oleh kepekaan alat pencernaan terhadap susu sapi. Secara fisik, perbedaan antara susu sapi dan kambing terlihat secara nyata yaitu warna susu kambing lebih putih daripada susu sapi karena susu kambing tidak mengandung karoten.
Khasiat susu kambing antara lain
1. untuk terapi penyakit TBC
2. membantu memulihkan kondisi orang yang baru sembuh dari suatu penyakit
3. mampu mengontrol kadar kolesterol dalam darah.
Kandungan gizi dalam susu kambing dapat:
1. meningkatkan pertumbuhan bayi dan anak anak serta membantu menjaga keseimbangan proses metabolisme
2. mendukung pertumbuhan tulang dan gigi serta membantu pembentukan sel sel darah dan jaringan tubuh.
3. Bagi wanita dewasa untuk mengembalikan zat besi setelah haid, kekurangan darah (anemia)
4. Kehamilan
5. Serta pendarahan setelah melahirkan.
Di samping itu, kandungan berbagai mineral dalam susu kambing memperlambat osteoporosis atau kerapuhan tulang.

Dokter Geroge Dermitt dari ohio, Amerika Serikat, memakia susu kambing untuk anak anak yang menderita penyakit eksim (gatal di kulit) dan hasilnya cukup memuaskan. Beberapa pakar penyakit di New Zealand juga menganjurakan pasiennya untuk mengonsumsi susu kambing untuk meningkatkan kesehatan kulit, terutama bagian wajah.

b. Kandungan Susu Kambing
Di Indonesia, susu kambing biasanya dikonsumsi dalam bentuk susu segar. Di beberapa negara, susu kambing sudah dijual dalam berbagai bentuk makanan olahan, seperti yoghurt dan keju. Sementara itu di New Zealand sudah di pasarkan susu kambing dalam kemasan kapsul. Hasil penelitian united state departement of agriculture (usda) tentang perbandingan komposisi kima antara susu sapi, kambing, dan air susu ibu (ASI) dapat dilihat dalam tabel 1

ini tabel nya di klik aja biar jelas

D. Faktor-faktor yang Membedakan Kuantitas dan Komposisi Susu Kambing
Adanya beberapa perbedaan komposisi kimia tidak hanya terdapat pada ketiga jenis susu tersebut. tetapi juga terjadi pada susu kambing yang dihasil-kan oleh kambinj yang berneda. Halini bisa dimengerti karena begitu banyak faktor pengontrol produksi susu, baik kualitas maupun kuantitasnya, yaitu sebagai berikut:

a. Variasi Antar jenis Kambing
Di dunia ini, berkembang aneka jenis atau bangsa kambing, dengan
aneka krakteristik yang berbeda satu dengan lainnya. Misalnya kambing
kacang sebagai kambing potong, kambing etawa sebagai kambing tipe dwiguna, kambing toggenburg sebagai penghasil susu yang baik, atau kambing angora sebagai penghasil kulit bulu bcrkualitas tinggi. Di antara :enis kambing tipe perah pun terdapat variasi dalam jurnlah produksi susunya.

b. Variasi Interjenis Kambing
Setiap individu dari jenis atau bangsa kambing yang sama memiliki variasi dalam jumlah susu yang dihasilkan. jenis atau bangsa yang sama, pada umur dan masa laktasi yang berbeda akan memiliki jumlah produksi susu yang berbeda.

c. Faktor Genetik
Faktor genetik adalah faktor yang diturunkan nenek moyang kepada keturunannya dan memiliki sifat kebakaan. Setiap nenek moyang (induk dan pejantan) memiliki sumbangan yang sama terhadap penampilan produksi keturunannya. Sampai saat ini belum dapat diungkapkan berapa banyak gen yang bekerja mengontrol tingkat produksi susu. Hampir bisa dipastikan adalah jika seekor kambing memiliki produksi susu yang tinggi kemudian dikawinkan dengan pejantan yang memiliki nenek moyang betina yang juga tinggi produksinya, kemungkinan besar keturunan yang berkelamin betina akan memiliki tingkat produksi yang tinggi pula. Namun, ilmu genetika tidak sesederhana itu. Selalu ada penyirnpangan yang terjadi dan apa yang diinginkan tidak pasti selamanya terjadi.
-
d. Musim
Hasil penelitian di luar negeri menunjukkan bahwa kambing-kambing yang beranak di musim gugur memiliki tingkat produksi yang lebih tinggi dibandingkan dengan kzambing-kambing yang beranak di musim panas. Untuk kondisi di Indonesia, belum banyak penelitian dilakukan, karena perkembangan usaha peternakan kambing perah belum begitu bergairah.

e. Umur
Produksi susu kambing umumnya meningkat seiring dengan bertambahnya umur, dan mencapai puncak saat berumur 5—7 tahun, yakni pada masa laktasi ke-3 atau ke-5. Selanjutnya prodaksi susu menurun. Untuk kambing-kambing perah yang hidup dj daerah subtropis, tmgkat produksi susu akan mencapai puncak setahun lebih dahulu, dan dapat terus dipcrtahankan tanpa ada perubahan yang mencolok selama 2.atau 3 kali masa laktasi.

f. Lama Masa Laktasi
Dalam satu jenis atau bangsa kambing, perbcdaan lama masa laktasi akan mcnycbabkan perbedaan jumlah total produksi susu selama masa laktasi tersebut. Semakin lama masa laktasi, akan semakin banyak total produksi susu yang dihasilkan. Korelasi ini tidak berarti akan semakin tinggi keuntungan yang akan diraih peternak, karena belum tentu produksi hariannya mampu menutupi biaya produksi.

g. Faktor Perawatan dan Perlakuan
Kambing perah, seperti juga hewan ternak yang lain, membutuhkan suasana kandang yang nyaman untuk dapat berproduksi secara optimal. Kandang yang sejuk, tidak gaduh, dan perlakuan yang tidak kasar merupakan syarat agar produksi susu kambing optimal. Sebagai contoh, dalam kandang yang gaduh, kambing yang sedang laktasi akan mudah terkejut, dan saat terkejut itu tubuhnya mengeluarkan hormon adrenalin yang mengakib,atkan terhambat atau terhentinya sekresi hormon oxytocin, yang berfungsi dalam produksi susu di kelenjar ambing.

h. Pengaruh Masa Birahi dan Kebuntingan
Kambing-kambing yang dikawinkan kembali setelah 3 bulan beranak, tingkat produksi susunya akan lebih cepat menurun dibandingkan dengan kambing-kambing yang sedang laktasi, tctapi tidak bunting. Hal ini kemungkinan besar disebabkan oleh kurangnya kuantitas dan kualitas pakan yang dikonsumsi, serta tingginya kebutuhan kambing akan zat-zat makanan untuk mendukung proses fisiologis di dalam tubuhnya, misalnya untuk hidup pokok, produksi susu, serta pertumbuhan janin. Pada saat musim birahi
(estrus), kambing perah yang sedang laktasi akan mcngalami penurunan produksi susu sebagai reaksi dari berbagai proses bormonal di dalam tubuhnya, tetapi setelah masa birahi terlewatl, produksi susunya akan nor¬mal kemball.

i. Frekuensi Pemerahan
Berdasarkan beberapa hasil penelitian di luar negeri, kambing perah yang diperah dua kali sehari, total produksi susunya lebih tinggi daripada kambing perah yang diperah susunya sekali sehari. Meskipun demikian, tidak selalu total produksi yang lebih tinggi tersebut mcmberikan keuntungan yang lebih tinggi kepada petcrnak, karena untuk melakukan pemerahan dibutuhkan biaya, misalnya untuk menggaji pemerah. jadi, meskipun tingkat produksi susu meningkat dengan mcnambah frekuensi pemerahan, perhirungan ekonomi harus dilakukan secara matang.

j. Jumlah Anak dalam Sekali Melahirkan
Produksi susu kambing perah yang beranak dua ekor dalam 1 kali melahirkan, biasanya 20—30% lebih tinggi daripada kambing perah yang hanya beranak satu ekor. Penyebabnya adalah rangsangan menyusui dari
cempe (anak kambing) yang dilahirkan. Dengan demikian, tingkah laku cempe ketika mcnyusu bisa dilakukan oleh pemerah, sehingga produksi susunya tneningkat, misalnya dengan mengusap-usap bagian atas ambing sambil memijatnya.

k. Pergantian Pemerah
Kambing perah termasuk hewan yang tidak terlalu mudah beradaptasi pada kondisi lingkungan yang berubah secara tkastis. Pergantian pemerah akan menyebabkan kambing perah mengalami stres, sehingga produksi susunya menurun.

L. Lama Masa Kering
Untuk mendorong produksi cempe dan mencapai target tiga kali beranak setiap dua tahun, biasanya kambing perah dikawinkan kembali setelah beranak tiga bulan, atau saat pertama kali birahinya muncul. Dalam kondisi demikian, kambing perah membumhkan waktu untuk menjalani masa kering selama dua bulan. Dengan kondisi pakan yang cukup jumlah dan baik kualitasnya, organ-organ yang berfungsi memproduksi susu akan memiliki kesempatan yang cukup untuk kembali pulih kondisinya. Namun, jika kondisi pakan yang diberikan kurang baik, masa pemulihan akan lebih lama, dan jika kambing perah kembali beranak pada waktu organ-organ tubuh vang berfungsi memproduksi susu kondisinya belum pulih, bisa dipastikan produksi susunya akan menurun.

m. Faktor Hormonal
Salah satu hormon yang berperan dalam produksi susu adalah laktogen. Penyuntikan hormon ini terhadap kambing yang sedang laktasi menyebabkan produksi susunya sedikit meningkat. Demikian juga pengaruh penyuntikan hormon tyroxine. Hormon yang menghambat produksi susu adalah adrenalin, yang berpengaruh menghambat hormon oxytodne^ yang berpengaruh pada proses keluarnya susu saat pemcrahan.

n. Faktor Pakan
. Produksi susu kambing perah akan mencapai optimal jika pakan yang diberikan -dan dikonsumsi oleh kambing jumlah dan kualitasnya cukup. Komposisi hijauan dan konsentrat pun harus seimbang, karena keduanya memiliki fungsi yang berbeda. Hijauan adalah precursor(pendukung) produksi susu dan konsentrat merupakan sumber protein, yang juga dibutuhkan sebagai komponen penyusun susu.

o. Pengaruh Penyakit
Kambing-kambing petah yang sedang laktasi produksi susunya akan menurun jika terserang penyakit. Bahkan, produksi susu bisa langsung tcrhenti. Di samping itu, efek dari obat yang diberikan kepada kambing perah akan berpengaruh terhadap kualitas susu. Biasanya, kambing-kambing yang sedang sakit dan diberi obat antibiotika, susunya tidak boleh dikonsumsi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s